Archive for August 3rd, 2006

03
Aug

Indonesia memang surga bagi para perokok

yaa…seperti juga kata puisi Taufik Ismail Berikut ini…

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang
yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula
merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang
bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan
nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun
asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor
perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya, pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan
AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al
hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar
perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan
kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia
mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di
negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada
tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

wah .. sebuah puisi liris. alegoris yang mantab.. tenan.. semoga kita semua tersadar untuk segera membuang puntungnya.. eeeiiittt!!!.. awasss!!!.. ati2 jangan buang di tempat sembarangan apalagi di Pom bensin. bisa2 kita malah jadi ga sadar diri lagi…… oke

03
Aug

Ia Yang Jiwanya Telah Engkau Pilih

Ia Yang Jiwanya Telah Engkau Pilih

Diantara kesaksian firdaus, ditebaran bentang jalan kosmogonik

Tuhan Sepertinya sengaja menggagendakan ; untuk membiarkan Adam dan Hawa mendapati pohon yang “terlarang”  itu, lalu kedurhakaan mereka memang diperuntuk  bagi mereka untuk bertransformasi ke bumi. Transformasi yang lantas memberi arti bagi peradaban

Lalu surgapun mengkoreksi dari status quo. Kearah surga dinamis, surga primordial, dan surga esensial. Darisanalah akan bertahta mereka yang terpilih mereka yang diciptakan melalui dua tangan-Nya, sebab segala jalan adalah keberkahan. Baiklah engkau berada dikanan maupun dikiri, baik mereka yang tercipta sebagai Malaikat dan adapun juga mereka yang diciptakan Tuhan sebagai Iblis. sebab keduanya mendefinisikan Ke-Maha Adaan (Omni Present) dan ke-Maha Beradaan (Omni Represent). Seperti juga Tuhan menciptakan materi dan kembarannya. Anti materi.

dan aku adalah manifestasi dari sang Illahi

Bukan sekedar penciptaan ; sebab segala hal tertentu sebuah kemaha termanifestasi. Dosa memanifestasikan Maha Pengampun karena tanpa dosa mana mungkin Tuhan Menjadi Maha Pengampun begitupula Surga, memanifestasikan Maha Pemberi, dan sumber segala sumber. Bayangkan satu komponen saja tidak ada, ruang bukanlah ruang. “Keadaan”..sebuah keberadaan (eksistensi) adalah ruang kontrivugal sekaligus sentrapetal.

Pernahkah terpikir oleh kita sebuah kesadaran akan adanya

ADA

. Lalu tentang eksist, lalu tentang hidup. Apakah yang mula2 membangun kontruksi ruang "

Ada"

. Pernahkah dari kita ada yang berpikir. Dmanakah “kita”? jika kita tidak hidup.

Ada

dmana kah “kita”?? Lalu kekuatan apakah yang menentukan kita hidup atau tidah hidup??? Dan apakah

Ada

itu memang ada? Atau jangan2 ruang terbalik kongruen dari tiada yang sebenarnya sangat Ada. seperti juga kata Budha ; yang ada itu sebenernya tiada dan yang tiada sebenarnya sangat ada. Siapa yang menciptakan

Ada

? Tuhankah ??.. dan……. Siapalah yang menciptakan Tuhan… Tuhan-nya Tuhan kah.. lalu siapa yang sebenarnya Tuhannya Tuhan itu..???

Aku hanya seorang lelaki kecil dalam suatu kurun masa

****

Tanpa kosmos, “Tuhan”  bukanlah Tuhan, sebab keilahian didefinisikan setepatnya pengertian kosmos. Tanpa Wanita, pria bukanlah pria. Sebab pria didefinisikan oleh wanita. Inilah suatu misteri kekuatan wanita. (Ibn “Al Arabi)

Lalu Tuhan memisahkan darinya seorang dalam bentuknya yang dinamakan Wanita. Wanita itu menjadi terwujud dalam bentuknya , maka dia merindukan wanita itu. Sebagaimana sesuatu merindukan dirinya sendiri, dan wanita itu merindukannya sebagaimana sesuatu merindukan tempat asalnya, maka kaum wanita dibuat memikat baginya (laki-laki) sebab Tuhan mencintai seseorang yang dia ciptakan sesuai dengan citranya sendiri dan yang dihadapannya dia. (Tao Of Islam-Sachiko Murata—254)

Sebetulnya ingin Kukatakan padamu

Bahwa cintamu Indah. Tapi cinta memang bukan satu-satunya jalan kebahagiaan (hidup) Meski begitu, percayalah. Tanpanya, hidup tak banyak memberi makna, meskipun kau dapati segalanya berlimpah.